Kelahiran

Sebuah kelahiran membuat kita tersenyum di pagi yang tak buta.
Di pagi yang baru saja disambut sahutan kokok sang jago dan sahutan adzan yang saling berburu dengan deru tangismu yang jika tak mengingat bahwa penantian ini membutuhkan sakit dalam tempo yang cukup lama.

Dan setiap perempuan memang lah ditakdirkan memiliki cerita tersendiri dan berbeda–beda ketika melahirkan. Si Fulana bercerita dengan mudah, si Fulani bercerita dengan payah yang hampir habis, dan tak jarang si Fulan yang bercerita tentang pasangannya yang menghadapi kelahiran anaknya tanpa sakit sedikitpun, namun dengan sakit yang panjang menanti setelahnya selama beberapa pekan.

Kemudian bagaimana saya harus mengucap syukur ketika kematian terasa begitu dekat namun sebuah harapan hidup juga ada, ada untuk yang baru, dan ada untuk penyambung pangan bagi yang baru.

Pagi tetaplah masih terlalu pagi. Subuh sudah hampir habis. Seorang yang kami panggil dengan nama Busrah menyuruhku tidur. Lantas aku yang polos berpikir mungkinkah semua orang yang sudah melahirkan harus tidur? Lantas jika aku tak tidur apakah aku akan mati atau ada risiko yang panjang dan buruk setelahnya.
Tak sempat kutanyakan, tangannya menyapu dengan lembut kerudungku yang menawarkan aroma anyir darah. Ia kemudian mengeluarkan perintah yang sama lagi. “Tidurlah”.

Tak ada yang menawarkanku melihat si bayi. Mungkin semua sibuk dengan euforia kehadiran si bayi dengan penantian sakit yang hampir menghabiskan waktu 24 jam. Sakit yang berulang. Kontraksi yang berulang dengan sakit yang semakin sakit setelah sakit-sakit ringan yang tercicil dengan adil.

Bapak dari bayi pun yang sedari tadi panik, juga tak menawarkan itu, Ia hanya sesekali senyum yang menandakan ia bangga telah menyandang status baru setelah hampir setahun sebelumnya ia juga bangga dengan status barunya. “Suami”. Beberapa malam pasca 20 April ia terus berkata dan hampi selalu mengulang kata yang sama atau sinonim dari kalimat yang sama jenisnya “Saya bahkan tak pernah percaya bahwa saya akan menikah, terimakasih Neng”.

Kembali ke pagi. Aku masih memejamkan mata, mencoba untuk tidur, tepatnya mencoba menghilangkan risiko mati yang kubayangkan pasca melahirkan. Namun bukankah semua yang bernyawa akan mati. Memang itu tepat adanya, namun hal yang tak terelakkan adalah aku tetaplah manusia yang selalu dihantui takut mati.
Aku tak bisa pulas, kantuk hilang, sakit masih tersisa, namun sakit yang tercicil genap dalam sebuah kosa kata “kontraksi” cukup membuat sakit-sakit yang lain seolah tak berarti.

Pelajaran dari sakit kontraksi ini adalah, betapa banyak kita telah menyicil dosa kepada perempuan yang juga men anggung kontraksi sebelum kita terlahir. Betapa banyak kata maaf yang ia keluarkan, ketika ia menyusul ucapan maafku yang disertai banyak air mata. Dan melihat ia tersenyum dan menggendong bayi yang baru saja lahir, membuat rasa penasaranku untuk melihat si bayi hilang seketika. Mungkin memang senyum ibu selalu lebih indah.

Aku masih mencoba untuk tidur. Karena tidur tak juga datang menghampiriku, akhirnya aku hanya memejamkan mata. hingga suara-suara memanggil untuk pulang telah terdengar.

Sebuah pagi yang tak sempat kubangun dalam sebuah cerita tiga tahun yang lalu. Selamat hari lahir anakku, Arumi Zaky, kau membuat senyum dan tangis hadir dalam waktu yang bersamaan. Banyak harapan yang tak pernah bisa kutulis satu-satu ataupun kukeluarkan satu-satu. Seperti banyak cerita yang tak pernah bisa kurangkum selama ini, sebab kagum-kagum atas kehadiranmu selalu lebih mendominasi dan sukses membuat geming.

Mungkin semua harus dicicil seperti kontraksi yang tercicil sempurna, yang sebenarnya hanya memakan waktu satu hari satu malam namun terasa lebih panjang dari waktu yang sebenarnya. Maha Besar Allah, Maha Sempurna Allah, Maha Suci Allah yang telah menitipkanmu padaku.

Kelak, semoga kau bisa bangga padaku, seperti tiga tahun ini kau menjejalkan cinta yang tak pernah habis untukku. Tak pernah bisa kuhitung, berapa kali tangan kecilmu mencubit gemas pipiku, dan kau akan mengatakan “Kusuka pipinya mama, kusuka mama, kenceng..kencengceng.. bla,,.bla..bla”.

Sekali lagi, selamat hari lahir anakku. Semoga kau tumbuh menjadi anak shalihah, generasi Rabbani, generasi Qur’ani, generasi yang melebihi dari semua doa-doa terbaik yang terangkum dengan kata-kata yang terbatas selama ini.

29 Maret 2017, nd.

Belajar Cinta dan Ilmu dari Quba

Karena sekadar cinta kepada Allah dan RasulNya saja tidaklah pernah cukup. Harus ada ilmu yang menggenapkannya. 

IMG_20160325_083546Agenda dari jamaah umrah Abu Tour pemberangkatan tanggal 22 April, masih berkutat di kota bersejarah, Kota Madinah Al Munawwarah. Dan yang menjadi agenda di hari kedua kami adalah kunjungan luar atau City Tour. 248 jamaah dibagi ke dalam enam bus, dan memulai City Tour tepat pukul 8 pagi.

City Tour kami dimulai dengan mengunjungi Masjid Quba, yaitu masjid pertama yang dibangun oleh Rasulullah Shallallahu `alaihi Wa Sallam. Masjid ini termasuk salah satu dari masjid istimewa yang disebutkan oleh Rasulullah, dimana beliau bersabda Barang siapa yang bersuci dari kediamannya, dan melakukan shalat di Masjid Quba, maka pahalanya sama dengan satu kali umrah.

Mungkin hal ini pulalah yang menjadi buruan dari semua jamaah umrah dari berbagai belahan dunia, tidak terkecuali jamaah umrah Abu Tour pemberangkatan tanggal 22 kemarin. Mulanya saya menyangka kunjungan ke Masjid Quba layaknya mengunjungi situs sejarah seperti biasanya. Namun ternyata dugaan itu jauh dari bayangan yang ada, Masjid Quba dipadati oleh ribuan jamaah, berdesakan, dan lengkap dengan kesan ibadah yang terburu-buru.

Tidak jauh berbeda dengan dengan keadaan di Raudah. Namun jika di Raudah jamaah memburu shaff terdepan, di Quba jamaah hanya memburu ibadah shalat dan bisa dilakukan di mana saja. Sehingga desak-desakan pun masih dalam batas sewajarnya, sekalipun memang tak terhindarkan.

Namun, dari semua pemandangan tadi, yang membuat saya terhenyak dan banyak merenung, jika kondisi shalat terburu-buru mungkin bisa dimaklumi dengan keadaan berdesakan, namun ada yang membuat sedikit miris. Tidak sedikit dari jamaah yang shalat tanpa memperhatikan kerapihan penutup kepala yang menjadi syarat sah shalat. Ada bahkan di antara jamaah yang kain penutup kepalanya tersingkap hampir setengahnya, sehingga rambut sangat banyak yang terlihat.

Mungkin bagi saya ini miris, ataukah saya yang kekurangan ilmu tentang syarat sahnya shalat. Tidak sampai di situ, di antara jamaah yang berdesakan tidak sedikit yang membiarkan kakinya terlihat. Allahu’alam, mungkin karena kondisi yang mendesak sehingga jamaah tidak lagi sanggup memakai kain yang menutupi kaki, ataupun merapikan kerudung sebelum shalat.

Namun dari semua ini, ada hal yang tidak boleh terabaikan begitu saja. Yaitu pemandangan bagaimana jamaah berdoa, menangis sambil shalat, bahkan tidak sedikit yang meraung. Hal ini jelas menunjukkan betapa keberadaan penghambaan kepada Rabb tergambar begitu jelas, dengan kondisi ibadah seperti apa pun, jamaah tetap hadir dengan cinta yang penuh, cinta dan rindu yang ingin segera disampaikan Hamba kepada Rabbnya, kepada RasulNya.

Dari kondisi City Tour pertama ini, saya sendiri banyak mengambil ikhtibar di dalamnya. Di antaranya kita sebagai hamba Allah dan ummat Rasulullah tidak hanya cukup dengan mempersembahkan cinta saja. Tapi butuh ilmu untuk melengkapinya. Selayaknya amal tanpa ilmu, seperti tidak berarti apa-apa.

Agenda City Tour selanjutnya cukup berjalan lancar, Mutawwif mengantarkan jamaah dengan cerita sejarah yang melengkapinya ke kebun kurma dan jabal Uhud. (nd)

Aku, bukan sang Bujang.

Alas kakiku pun mencibir tertawa sinis pagi tadi.
Di usia 42 tahun, aku bukan sang bujang, tapi masih dimarahi oleh emak.

Aku memang bukan sang bujang. Tak lagi bujang. dengan catatan dua kali pernikahan.
Aku bukan sang bujang, memiliki seorang istri, tapi ia tak dirumah saat itu, saat ini, dan sudah beberapa hari ini, dan hampir dipastikan tidak akan berada di rumah dan di kamar kami sampai beberapa bulan ke depan (kuharap tidak lebih dari dua bulan).

Aku bukan sang bujang, tapi aku belum memiliki anak. (kupakai kosa kata ‘belum’, karena Alhamdulillah sampai saat ini saya dan istri masih optimis dan berusaha untuk mendapatkan keturunan, sekalipun usia pernikahan kami setahun lagi akan menginjakkan angka ke 10 tahun).

Aku yang tak lagi bujang, aku yang sudah kepala 4. dan aku yang tak lagi muda. Tapi beberapa hari ini pengawasan emak padaku seperti mengawasi anak laki-laki bocah umur 10 tahun yang baru menyentuh baligh.
Shalat subuh dibangunkan, emak bahkan tidak melepas pandangan dan teriakannya sebelum memastikan aku mengambil air wudhu untuk subuh di masjid seberang rumah.
Pulang yang diawasi. Emak tidak akan menyentuh lelap malamnya, sebelum memastikan kendaraanku sudah terparkir di dalam rumah, yang artinya saya sudah pulang.
Dan tentunya ini akan berlanjut pada esok hari. Jika saya pulang lewat maghrib, tentulah akan menjadi wacana kemarahan emak yang baru dan berulang.

Bahkan, alas kaki.ku pun mencibir tertawa sinis pagi tadi.
Di usia 42 tahun, aku bukan sang bujang, tapi masih dimarahi oleh emak.

Dan sampai hari ini aku hanya bisa diam, setiap kali emak marah, selanjutnya aku akan menginjak alas kakiku dengan kekuatan dua kali lebih kuat, agar gelak tawanya tak terdengar sampai di telingaku.

Aku akan tetap diam, kecuali kepercayaan emak kembali lagi. entah kapan akan terjadi.
Yang jelas, sudah hampir sebulan ini, kami tidak lagi menikmati hangatnya kopi bersama-sama, di ruang tamu selepas jamaah subuh di masjid seberang rumah.
Atau dengan kebiasaan lain, menikmati buras dan gogos panas yang sengaja kubeli di pasar subuh selepas dari masjid, selanjutnya kami akan mengomentari tayangan tv yang penuh kepalsuan dan parodi aneh yang semua orang mengaguminya.

Di sebuah pagi yang lain, emak ‘kembali’ marah padaku, namun kali ini sambil menangis..
Tuhan, kali ini pagi pun mencibir celaannya padaku, di usia 42 tahun, aku membuat emak menangis, bukan menangis haru atau bahagia. tapi menangis kecewa, dengan memohon agar bisa mati dalam keadaan tenang tanpa dikejar hutang.

Emak, aku bukan sang bujang, percaya, kebiasaan pagi kita akan kembali lagi suatu hari nanti, dengan keadaan yang lebih meriah, ditemani istriku, cucu-cucumu, dan anak-anakmu yang lain.

“kau tidak akan meninggal dikejar hutang,”

Sebuah catatan pagi, dari sebuah parodi nyata di sebuah rumah seberang masjid.

Perubahan Perempuan

Penyelesaian yang lama.

Saya pernah (selalu) membuat secangkir kopi atau lebih untuk menikmati malam
dan selalu menikmati sisanya yang tidak hangat di pagi hari.

Saya pernah (selalu) berteman akrab dengan udara yang berlari kencang atau melawan udara dengan kecepatan laju motor di atas rata-rata.
Kemudian melepaskan gasnya dan menikmati angin sambil berdiri dan berteriak, tanpa beban dan tanpa seorang pun yang melarang.

Kita merdeka pada waktunya..
Kemudian tidak merdeka, dan kembali meraih merdeka dalam makna yang berbeda.

Selayaknya, perubahan adalah sebuah keniscayaan.
Tidak akan ada yang bertahan dalam keadaan yang sama dalam waktu yang lama.

Pelangi muncul sehari sebelum kita bersama
Kemudian hilang dalam waktu yang lama ketika kaki kita setara dan sejajar dalam langkah yang kita anggap sama.
Beberapa rintik hujan kemudian kembali memunculkan pelangi, namun selalu kita anggap biasa dan tak ada, mungkin karena kita sibuk dengan kebiasaan-kebiasaan yang baru.

Pagi yang tak sama
Siang yang tak sama
Malam yang tak sama
Terutama cengkrama sore di sebuah toko yang tak lagi sama hingga hari ini.

Mau tidak mau, perubahan perempuan ada hari ini, saat laki-laki hadir tiba-tiba sebelum kompromi dan persiapan akan kehadirannya selesai..

Handuk pagi ini belum kering.
Kulihat senyummu juga mulai berubah dari hari ke hari.
“Kita tidak punya secangkir kopi, dan entah kapan bisa menikmatinya bersama lagi di sebuah sore, dengan waktu yang tidak tergesa-gesa.”

-Mencintaimu di Ahad Sore, nd-

 

 

Merayakan Kesombongan

Sejak kapan kita bangga pada diam, tak saling menyapa, lantas menyapa tapi dengan nada yang tak lumrah selama ini.
Sejak kapan kita bangga dengan kata sombong atau sifat sombong?

hm, mungkin sejak kita mengenal rupiah yang bisa kita kantongi sendiri tanpa menengadah tangan terlebih dahulu pada seseorang yang tubuhnya lebih tinggi, atau ketika kita menengadahkan tangan, kepala pun ikut menengadah ke atas mencari wajah yang pasti, wajah yang ingin memberi..

Selamat berusaha, selamat merayakan rasa, rasa yang dalam bahasa kamus kutemukan arti dari diam ini adalah sombong..

Sampai pagi menggantikan pagi berikutnya, kita tidak akan pernah sanggup mengadili rasa, rasa dari siapapun..

Kita saling mengenal di sebuah pagi yang terlalu pagi, ketika kemeja hanya bisa berwarna putih, dan bawahan hanya bisa berwarna hitam..

dan kita saling membelakang ketika matahari hampir habis.. di sini tak ada suara kecuali deru motor, dan kita sibuk saling membandingkan isi kantong masing-masing..
Mari merayakan kesombongan, yang konon tak ada bau surga yang kita dapatkan nantinya..
Siapa yang peduli, toh surga belum perna kita liat..

Dan Surga telah berada di tangan, ketika kudapati rupiahku lebih bernilai.
Dan Surgamu juga kau dapatkan, ketika kau dapati rupiahku lebih sedikit..

Selanjutnya, caci maki mendahului sebelum diam itu ada..
Malam sudah larut, kantuk menguasai kita di atas angkot..

 

Meletakkan Kaleng Kosong.

Meletakkan Keleng Kosong 

Sesaat setelah tegukan terakhir dari kopi kaleng yang sengaja kubeli pagi tadi.

Kupikir aku akan sangat lelah hari ini, aku akan dikuasai ngatuk namun beberapa hal memaksaku untuk tetap membuka mata.

Pukul 14:12 kuletakkan kaleng kosong di atas meja, tepat di atas meja yang tak seorang pun memperhatikan keberadaannya.
Akankah dia menjadi saksi kemenangan siang ini, atau saksi kekalahan, atau menjadi saksi dari kebohongan.
Atau sekadar menertawai keberadaannya yang tak seorang pun tahu, bahwa ia ada, menyaksikan wajah-wajah yang hadir palsu dengan slogan optimis.
Yah, siang ini tetap terlalu panas, tapi tetap menjadi terlalu dingin untuk kata kekalahan.

Maka jika mencari siang yang bijak, mari kita melihat pijakan kaki, sejauh apa kita berani menghadapi sebuah kata kekalahan, dan sejauh apa syukur itu ada untuk sebuah kemenangan.
Buru-buru Sang pemilik suara terbesar, perut yang terlewat buncit, punggung yang basah oleh keringat, legam kulit memakan perjuangan beberapa hari terakhir, dan mari berteriak Menang, dan semua yang baru saja kita saksikan di sebuah televisi merah, adalah kebohongan si kuning.
Sang pemilik suara masih berteriak, Mana militansi? Mana Semangat? dan kemana Semangat yang baru-baru saja hilang ditelan auman macan dari televisi merah?

Aku baru saja meletakkan kaleng kopi kosong di atas meja, yang mungkin tak seorang pun dari ratusan yang ada, menyadari kehadirannya.
Kuletakkan pelan-pelan, dan tegukan terakhirnya memang jauh lebih ahit dari tegukan-tegukan awal yang kuawali dengan nama Dzat yang Maha Mengatur.

Celetuk berkembang. “Allah itu Maha Adil, maka cocoklah jika kekalahan milik sang penyabar, sebab jika sang macan yang kalah tentunya bukan hening yang kita rasakan hingga pukul 20:00 malam ini, bahkan hingga berganti fajar, pagi kemudian malam lagi, bukan itu yang kita dapatkan, tapi merah dari taring sang macan.”

“Allah itu Maha Adil” sembari menarik nafas panjang, yang Ia pun tak sadar, dari kata-katanya adalah susunan pengakuan kekalahan yang semoga tidak hiperbolis, tapi mencoba ungkapan yang lebih bijak dengan mengawalinya dari hikmah yang pun tidak semua menyadarinya, seperti yang lain juga tidak menyadari kehadiran meja hitam berkaki empat, tempat aku meletakkan kaleng kopi instan yang sering kali kunikmati kala pacu jantungku tidak menentu.

Aku masih menikmati siang, menikmati riak kekecewaan yang dilampiaskan dengan kaata optimis, dan mengatakan ‘televisi merah milik si kuning itu’ pembohong..

Aku juga masih menikmati sisa kopi yang masih menyisakan pahit di mulut dan bibirku. Sesekali kujilati sendiri, untuk memastikan pahit itu masih ada. Aku juga masih menikmati euphoria kemenangan yang tak pasti, di sini, di mana tak seorang pun kulihat menikmati makanan atau sekadar minum melepas haus. Sepertinya tenggorokan pun bermasin adil, juga tidak menerima apapun. “Kecuali pada diriku, aku masih bisa menikmati kopi instan.”

16:12, Aku meletakkan kaleng kosong, di atas meja yang tak seorang pun menyadari kehadiran benda persegi panjang berkaki empat ini.  Tepat di bawah pohon.

Kita ada tidak untuk menertawakan yang kalah.
Kemudian setelah hari ini datang, aku sangat benci orang yang menertawakan orang lain, hanya karena sebuah ketidakmampuan, kegagalan, apalagi yang menertawai mimpi dan optimis yang kamu pun bahkantak sanggup memilikinya.

Perempuanku, malam sudah terlalu larut untuk beretorika.
Selamat tidur, aku kembali meletakkan kaleng kosong sesaat setelah tulisan ini selesai.  (nd, 23 Jan 2013)

Pesta demokrasi Sulsel baru saja berakhir.
Mari kembali meneguk kopi malam  ini.