
Tanggal berapa hari ini?
Di mana kita biasa memenggal kata dan kalimat?
Sudah berapa lama kita bicara dengan satu wacana yang sudah hampir membusuk dan mendekati kata usang dengan sendirinya ini?
Kopi dan teh yang menemani kita pun hanya bisa menyisakan aroma dan ampas yang terlalu pahit untuk sekadar dinikmati, menyusul kemudian suara tangisan bayi yang entah, mungkin menyuarakan marah dan sekilas kecewa yang tak mampu kita maknai.
Perempuan untuk perempuan.
Seberapa lama, kau menginginkan ini hanya sebagai wacana?
Seberapa gigih dan lama kita berjuang?
Apakah laki-laki tidak mendengar kemarahan perempuan?
Apakah laki-laki tidak memiliki sepasang mata untuk melihat air mata?
Bukankah ini adalah kesepakatan?
Lantas hari ini, dimana aku ada?
Haha!! Aku tertawa dengan bahak yng pun hampir tak terdengar. Aku pun tak mampu menebak bahkan mengatakannya sekalipun.
“Aku bukan siapa-siapa, hanya si Buyung yang pun sekadar membaca murung pun tak mampu”
Perempuan untuk Perempuan. Sejauh mana kita mampu bersikap. Sejauh mana kita saling menghargai? Sejauh mana kita peduli tangan perempuan akan lebih banyak dari pada tangan Laki-laki.
Sehingga ini dikatakan kekalahan atas nama penghargaan. Aku benar-benar tidak mengerti, muak dengan wacana sempit yang hampir tiap malam kita keluarkan dengan suara yg lebih keras dari biasanya.
Jika ini adalah kekalahan, atau sekadar mengalah, Lantas sampai kapan kau menikmati ini? Bukankah kau sendiri yang meringis kesakitan jauh sebelum malam ini ada..
Aku muak. Dan pada akhirnya kopi pahit ini hanya bisa dinikmati dengan menangis dan menangis. Ah, lagu lama, bahkan ini sudah menjadi tulisan usang dalam bab jenuh si penulis yang berambut putih dengan gigi yang hampir habis.
Perempuan untuk Perempuan.
Pada akhirnya Kau larut dalam mata sayu, dan gertakan sekaligus. Lantas, buat apa kita mewacanakan semua ini, hampir setiap malam dengan kantuk yang terlawan untuk sebuah “kebebasan”.
Aku baru sadar, semua akan bungkam di bawah ketiak Lakilaki.
Sekali waktu, rintihanmu kembali menggema, aku akan memilih menikmati secangkir kopi, koran, sepotong roti, beberapa batang rokok, teks-teks yang juga mulai usang, musik, layar hape, dll, yang kemudian terlalu jauh untuk sekadar menjadi tontonan bersama.
Kali lakin, bagusnya kita mewacanakan “arisan” saja!! (nd)
Perempuan untuk Perempuan.