Memelihara Kekecewaan

Di sini bumi masih hitam.

Malam semakin larut, Perempuan penunggu puisi itu, masih memelihara kekecawaannya dengan membunuh bunga satu per satu…


Untuk perempuan berbaju hijau, Kau harus tahu, sampai hari ini bunga dan puisi masih menunggumu.

Engkau dengan segala hal yang kemudian membuatmu diam, sunyi.
Diam yang terlalu panjang, pun menyisakan prasangka yang panjang.
Maaf, sepertinya ini akan lama.
Kau Memelihara kekecewaan-kekecewaanmu dengan baik.

Hujan belum juga turun, sekali lagi kau mengalihkan pandangan.
Seperti titik-titik pandang yang akan mempertemukan mataku dengan matamu juga kau hindari dengan sempurna.
Memang ini akan terlalu sakit jika kita memilih untuk membuatnya sakit.
Hati dan bumi selalu punya pilihan. Apa yang membuat kita memperbandingkan sesuatu selalu akan membuat kita memikirkan perbedaan. Bukankah pijakan kaki mengajarkan kita bahwa perbedaan itu selalu akan berujung pada sakit?

Maka carilah persamaannya, wahai perempuanku.
Semoga salam yang sebelumnya tak pernah sehangat senyum yang kau tawarkan, akan menjadi lebih ramah dari embun yang selalu kau puja.
Hujan dengan rintik yang lama akan membuatmu dingin.
Aku dalam sudut sunyi rumah hitam berdebu, tak kalah peluh bercampur menjadi asam yang sesekali dapat membuat kita mabuk.
Jarum jam bergerak ke arah kiri, mundur, beraturan, dan Pasti.
Aku melihatmu dari setiap ujung jarum jam yang bergerak mundur menyisakan darah dari pelipis dan dari ujung matamu untuk setiap gerakan mundurnya.
Marahkah kau? Tak terdengar lagi suara nyanyian merdu, manja, dan mencari sapa yang ramah.

Jarum jam masih bergerak mundur, lambat tapi pasti.
Berderet mundur dengan suara yang bergesek dengan bangkai hati yang mulai membusuk.
Langkah kaki kemudian tak pernah lagi bersua dengan bayang hitam yang dititahkan Tuhan sebagai anak kembar tak terpisah
Semua memilih menjadi hitam, gelap, tanpa mata.

Disini, bumi kembali hitam
Engkau dengan segala prasangka-prasangkamu, kemudian menjadi diam yang panjang. Kita seperti ikut dengan ephoria Malam yang terlahir sepi, gelap dan sunyi.
Beberapa ketakutan membuat kita begidik tak sempurna
Jalan-jalan kembali hitam
tak mencari ujung dan serta tumpuan pijakan yang pada akhirnya akan membuat kita sadar bahwa pijakan ini tak pernah kuat, pun untuk sekadar berteriak marah pada orang-orang yang menginjak kedua mata kita dalam waktu bersamaan.
Masjid di seberang jalan yang penuh dengan aroma obat kembali sepi.
Kita tak lagi saling menyapa.
Kini telah terlalu larut pun untuk sekadar menangis walau dengan keluh yang hanya sedikit.

Aku hanya ingin kamu tahu, di antara sisa malam yang larut hanya menyisakan aroma kayu tua yang hampir rubuh.
Kau terlalu cantik dengan rok panjang dan baju motif bunga, serta kerudung merah muda kesukaanmu, yang sesekali kau ganti dengan warna hijau yang lebih muda.
Sekali waktu, semua berpihak, dan mempertemukan kita di tempat yang sama namun dengan kekecewaan yang tak kau ingat sama sekali. (nd)

“Kita kadang tidak sadar, bahwa diamnya seseorang adalah marah. Sebab suara tawa menenggelamkan kita pada lupa dan empatik yang terkikis perlahan, Pasti.” 

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s