Kita dalam sebuah bingkai “Tanpa kaca-kata”

“Untuk sebuah Rumah dengan kaca dan jendela yang kita fungsikan sama sebagai pintu”

Kita dalam sebuah bingkai yang tidak terlalu jauh dari cangkir kosong beraroma kopi di meja pagi ini.

Tidak saling menyapa, hanya menawarkan senyum tapi tidak untuk dipertukarkan.
10 dengan jumlah yang lebih baik dari angka 2
Beberapa telah menjadi angka yang berbeda 6, 3, 2, 5, tetap 1, 4, 2, 4 yang jauh…, kemudian 1 dan aku sendiri. Hampir satu tahun angka 30 ayah dan ibu telah berkurang 1, dan di tempat yang terlalu jauh dijangkau mata dan kepekaan telinga dan rasa dari kulit.

Tak berapa lama, kemudian bertambah lagi menjadi satu. Kali ini dengan ukuran yang sangat kecil namun hadir dengan jenis dan nama yang hampir sama.
Nama yang hampir sama kemudian disusun satu persatu dari huruf-huruf kehidupan. Pas, hanya dengan jumlah dan dialek yang ‘sedikit’ berbeda.

Seharusnya, ada yang sadar dari awal, bahwa senyum itu bukan penawar gundah setelahnya, tapi awal dari gundah Ibu.

Kopi ibu semakin pahit, beberapa hari ini bahkan ia memesan dua cangkir kopi padaku tanpa gula sebagai pemanis seperti biasanya.
Kita dalam sebuah bingkai yang tidak terlalu jauh dari tepian dinding ruang keluarga.
Tapi ini tetap terlalu bingung untuk saling menyapa.

Sesekali terlalu sibuk menghitung jumlah kertas yang semakin menumpuk dengan catatan-catatan utang yang entah terus bertambah.

Sekali waktu terlalu sibuk menggali lubang yang tak pernah menemui pangkal kepuasan bahwa ini telah terlalu dalam, pun untuk sekadar berkata “Aamien” dari setiap penutup doa kita pada Tuan pemilik semesta.
Sekali waktu di tempat yang pun tidak terlalu jauh dari tempat kita memagut doa, matahari terlalu silau, senyum-senyum yang kita susun dari puzzle-puzzle rapuh persaudaraan, pernah menjadi pelukan yang begitu erat ketika angka 30 menjadi 29. Pernah menjadi teriak kekesalan ketika pandangan kita terbagi, tidak pada satu titik. Dan, Pernah menjadi diam yang terlalu panjang, tidak terlalu panjang, kemudian menjadi sangat panjang, senyap…

Kita memiliki sepasang mata untuk melihat, tapi juga memeliki hak penuh untuk tidak mempertemukannya dalam sebuh titik yang tidak terlalu jauh dari cangkir kopi ibu dengan hitam pekat yang tersisa.

Ramadhan tidak terlalu jauh di depan mata.
Idul fitri pun tidak terlalu jauh, seperti rentan waktu yang terlalu dekat dari adzan Maghrib ke Adzan isya.
Tapi, tak ada yang bisa menyangkal Ramadhan tahun kemarin, membuat ini semua semakin jauh. Pun untuk sebuah senyum yang belum sempat kita pertukarkan pagi ini.
Kita dalam sebuah bingkai yang tidak terlalu jauh dari daun pintu besi rumah, kini merah dengan peluh debu yang terlalu tebal, bahkan asik bercengkrama mesra dengan jaring laba-laba dengan warna yang hampir sama. 30-29-30- bahkan kini 30 lebih setengah, Hidup adalah sebuah permainan yang tak pernah usai dengan angka-angka, dan akan usai tika berhasil menutupnya dengan dua kalimat saja (sekali lagi tentang angka).

Aku suka menikmati secangkir kopi dengan perut kosong, kemudian menambah volumenya dengan beberapa cangkir setelahnya. Suara-suara kemudian terdengar tanpa tuan, menyelaraskan semua pijakan kaki di sebuah tempat yang tidak terlalu jauh dari sebuah masjid dan menara yang tinggi dan Merdeka.

Kita dalam sebuah bingkai yang tidak terlalu jauh dari bekas cangkir kopi ayah. Semua akan keluar dari bingkai, dan saling menyapa, senyum, dan berbagi lahap makanan khas berbuka puasa. Kita memang tidak terlalu jauh dari frame “12/10/6/3/12+1/5/12-10/4/2/4/1/1″  di rumah kita masing-masing.

Ini bukan puzle kemunafikan, atau ketakutan- Tapi lebih pada keinginan pijakan kaki bertemu dalam satu hamparan yang sempit. Kapan waktu sedikit memihak untuk sebuah pesan pendek yang kita ketik masing-masing, dengan niat sederhana “saling menyapa”?

5 pemikiran pada “Kita dalam sebuah bingkai “Tanpa kaca-kata”

  1. NN mengatakan:

    Insya Allah… everything will be ok at last…

  2. crazywrite88 mengatakan:

    seulas senyum mampu menyejukkan hati yang sedang dehidrasi..
    Hehehe

    • nd dalam secangkir kopi mengatakan:

      thx… Sekali waktu, kita bisa saling bertukar senyum sambil berbagi makanan dalam wadah yang sama… Amien.

  3. ammanbille mengatakan:

    kunjungi juga blog yang sudahkubuat tante .. baru kita’ mi yg uruski , kasih masuk tulisan2 na .. nanti kukasih tau passwordnya .. abidin-pksulbar.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s