Perempuan untuk Perempuan

Tanggal berapa hari ini?
Di mana kita biasa memenggal kata dan kalimat?

Sudah berapa lama kita bicara dengan satu wacana yang sudah hampir membusuk dan mendekati kata usang dengan sendirinya ini?

Kopi dan teh yang menemani kita pun hanya bisa menyisakan aroma dan ampas yang  terlalu pahit untuk sekadar dinikmati, menyusul kemudian suara tangisan bayi yang entah, mungkin menyuarakan marah dan sekilas kecewa yang tak mampu kita maknai.

Perempuan untuk perempuan.
Seberapa lama, kau menginginkan ini hanya sebagai wacana?
Seberapa gigih dan lama kita berjuang?

Suara hampir serak, bahkan hampir habis berteriak, menangis, dan menyusul kemudian diam. “Dan Kenapa ini kau lakukan hanya di balik bilik tanpa Lelaki?”
Apakah laki-laki tidak mendengar kemarahan perempuan?
Apakah laki-laki tidak memiliki sepasang mata untuk melihat air mata?
Bukankah ini adalah kesepakatan?
Bukankah ini adalah kalian berdua?

Lantas hari ini, dimana aku ada?
Haha!! Aku tertawa dengan bahak yng pun hampir tak terdengar. Aku pun tak mampu menebak bahkan mengatakannya sekalipun.
“Aku bukan siapa-siapa, hanya si Buyung yang pun sekadar membaca murung pun tak mampu”

Perempuan untuk Perempuan. Sejauh mana kita mampu bersikap. Sejauh mana kita saling menghargai? Sejauh mana kita peduli tangan perempuan akan lebih banyak dari pada tangan Laki-laki.

Sehingga ini dikatakan kekalahan atas nama penghargaan. Aku benar-benar tidak mengerti, muak dengan wacana sempit yang hampir tiap malam kita keluarkan dengan suara yg lebih keras dari biasanya.

Jika ini adalah kekalahan, atau sekadar mengalah, Lantas sampai kapan kau menikmati ini? Bukankah kau sendiri yang meringis kesakitan jauh sebelum malam ini ada..

Aku muak. Dan pada akhirnya kopi pahit ini hanya bisa dinikmati dengan menangis dan menangis. Ah, lagu lama, bahkan ini sudah menjadi tulisan usang dalam bab jenuh si penulis yang berambut putih dengan gigi yang hampir habis.

Perempuan untuk Perempuan.
Pada akhirnya Kau larut dalam mata sayu, dan gertakan sekaligus. Lantas, buat apa kita mewacanakan semua ini, hampir setiap malam dengan kantuk yang terlawan untuk sebuah “kebebasan”.

Aku baru sadar, semua akan bungkam di bawah ketiak Lakilaki.

Sekali waktu, rintihanmu kembali menggema, aku akan memilih menikmati secangkir kopi, koran, sepotong roti, beberapa batang rokok, teks-teks yang juga mulai usang, musik, layar hape, dll, yang kemudian terlalu jauh untuk sekadar menjadi tontonan bersama.

Kali lakin, bagusnya kita mewacanakan “arisan” saja!! (nd)

Perempuan untuk Perempuan.

“Perempuan dengan sepasang jeruji mata tanpa besi” (1)

Pada akhirnya kita bukanlah siapa-siapa.

Pada akhirnya kita bukanlah siapa-siapa. Benar-benar bukanlah siapa-siapa. Kopi malam ini begitu pahit, masih ada rasa dan sisa rasa di bibir cangkir yang belum sempat kita bersihkan dengan sapuanku atau sapuan dari bibirmu. Aku ingin menangisi rasa pahit ini, bahkan menertawainya dengan bahak yang begitu sakit bahkan untuk sekedar menuntaskannya. Bagaimanapun ini tetaplah tetap terlalu pahit, untuk dinikmati sendiri.

Terlalu banyak alasan untuk tidak merindukanmu, tapi tetap tidak mampu menepis rasa rindu yang ada untukmu. Angin berhembus lembut tapi tak ramah, rumah menawarkan rasa gerah yang berlebihan pada penghuninya, mungkin karena tak ada teman untuk berbagi panas, sehingga serangan gerah sangat terasa.
Hari kelima setelah hari pernikahan kita kau memilih pergi meninggalkanku. Kenapa hari kelima yang kau pilih? Ah, mungkin kau takut, suatu waktu puzlle cinta kita tersusun sempurna, dan terlalu sulit melepaskan dan merenganggkannya satu per satu. Nanti kau terlalu cinta padaku, sehingga pada saat waktunya terlalu sulit menyusun langkah untuk pergi dariku. Tapi kenapa kamu takut? Adakah yang salah denganku?

Ini terlalu menyakitkan, kamu meninggalkanku bersamaan dengan meninggalkan cemooh di tengah-tengah ibu-ibu pasar, ibu-ibu teras, ibu-ibu arisan, ibu-ibu dapur, bahkan para gadis yang masih berseragam, terakhir kudengar para lelaki pun berbisik sinis sesaat setelah langkahku meninggalkan mereka dengan lamban. Tidakkah mereka tahu bahwa ini terlalu sakit untuk ditanggung olehku seorang diri, kemudian sakit ini menjadi rasa sakit yang amat sangat, sebab ditambahkan oleh bisikan sinis tentang seorang perempuan yang memiliki umur pernikahan hanya lima hari. Ini terlalu sakit, lebih sakit dari rasa sakit yang dirasakan oleh seorang pengantin baru yang ditinggal meninggal oleh suaminya, setidaknya masih ada cinta yang masih bisa dikenang, dan akan menerima empati dari ibu-ibu, gadis-gadis, dan para lelaki yang tiba-tiba memiliki hobby yang sama dengan perempuan.

Jika hari ini aku masih bisa memilih, aku lebih baik ditinggal mati olehmu saja, dari pada ditinggal dengan cara yang paling tidak terhormat seperti ini. Berharap ini adalah mimpi, tapi sampai hari kelima itu telah jauh dari angka 5 dan hitungan hari, aku pun tak juga bangun dari mimpi burukku. Waktu memukul pundakku dengan keras, hitungan 5 minggu telah jauh sejak hari kelima pernikahan kita. Kau pergi tanpa berbalik sedikitpun, tanpa mengucapkan salam, tanpa kata cinta (yang memang sebelumnya tak pernah ada), bahkan tidak menatapku barang beberapa detik saja, untuk melihat sisa rasa iba darimu, karena bagaimana pun aku adalah perempuan yang kau titipkan janji dalam ijab qabul yang masih terngiang di telingaku sampai saat ini.

“Aku terlalu sakit”

Aku harus mencarimu, ini tidak adil. Aku harus mengembalikanmu pada yang empunya, dan kau hanya milikku. Kenapa aku harus menepi, ketika kau menepi? Perempuan ada, tidak hanya untuk menangis dan menepi ke tempat yang paling sudut memeluk kedua lututnya memohon iba. Tidak, Perempuan juga ada untuk berteriak marah, melawan, bahkan membunuh jika perlu.

Ini bukan permainan, suamiku! Bukan untuk dimulai lantas diakhiri tanpa isyarat bahkan salam sekalipun. Tidak demikian kawan, jika memang kita masih bisa berkawan untuk mentolerir kata “suami” dan “istri” yang masih terlalu asing untuk kita berdua. Kita memang tidak saling mengenal sebelumnya, pernikahan ini mungkin jebakan untukmu, lantas apakah kau berfikir kau adalah korban, dan aku menjadi tokoh jahatnya? Tidak, pada akhirnya kau pun harus mengakui aku jauh lebih menjadi “korban”, korban dari pernikahan plus egomu yang tidak jelas. Ego yang tak kukenal sedikitpun, aku hanya diberi waktu mengenalmu melalui nama, tubuh, interaksi dan percakapan yang terbatas selama lima hari kemarin. Pun ini terjadi padamu, tidak terlalu pandai mengenal perempuan. Jika kau pandai, kau tak akan meninggalkanku.

Tidak terlalu jauh dari tempatku berdiri, seorang pengemis pun tertawa hampir terbahak melihatku, aku curiga, bahkan kabar kepergianmu diketahui oleh bapak pengemis itu. Lantas melalui mulut siapakah ia dengar? Mungkin desa ini terlalu kecil, hingga sepanjang jalan pun tema dialog gossip adalah tentang perempuan bertitle haji ditinggal oleh suaminya setelah usia lima hari pernikahan. Setidaknya ia masih bisa tersenyum hari ini, satu pahala untukku, aku telah mampu membuatnya tersenyum, bahkan tertawa dengan bahak, walau dengan kondisi yang sangat miris tampak tak minum dalam tiga hari, bibirnya biru hampir hitam, kering, wajah lusuh legam, tapi masih memiliki hampir setengah batang rokok yang dihisapnya pun lusuh dan kotor, mungkin tak senikmat rokok kemarin yang baru keluar dari kemasan. Tampak rokok itu adalah rokok sisa yang dipungutnya entah dari atas jejak siapa?

(bersambung)

Memelihara Kekecewaan

Di sini bumi masih hitam.

Malam semakin larut, Perempuan penunggu puisi itu, masih memelihara kekecawaannya dengan membunuh bunga satu per satu…


Untuk perempuan berbaju hijau, Kau harus tahu, sampai hari ini bunga dan puisi masih menunggumu.

Engkau dengan segala hal yang kemudian membuatmu diam, sunyi.
Diam yang terlalu panjang, pun menyisakan prasangka yang panjang.
Maaf, sepertinya ini akan lama.
Kau Memelihara kekecewaan-kekecewaanmu dengan baik.

Hujan belum juga turun, sekali lagi kau mengalihkan pandangan.
Seperti titik-titik pandang yang akan mempertemukan mataku dengan matamu juga kau hindari dengan sempurna.
Memang ini akan terlalu sakit jika kita memilih untuk membuatnya sakit.
Hati dan bumi selalu punya pilihan. Apa yang membuat kita memperbandingkan sesuatu selalu akan membuat kita memikirkan perbedaan. Bukankah pijakan kaki mengajarkan kita bahwa perbedaan itu selalu akan berujung pada sakit?

Maka carilah persamaannya, wahai perempuanku.
Semoga salam yang sebelumnya tak pernah sehangat senyum yang kau tawarkan, akan menjadi lebih ramah dari embun yang selalu kau puja.
Hujan dengan rintik yang lama akan membuatmu dingin.
Aku dalam sudut sunyi rumah hitam berdebu, tak kalah peluh bercampur menjadi asam yang sesekali dapat membuat kita mabuk.
Jarum jam bergerak ke arah kiri, mundur, beraturan, dan Pasti.
Aku melihatmu dari setiap ujung jarum jam yang bergerak mundur menyisakan darah dari pelipis dan dari ujung matamu untuk setiap gerakan mundurnya.
Marahkah kau? Tak terdengar lagi suara nyanyian merdu, manja, dan mencari sapa yang ramah.

Jarum jam masih bergerak mundur, lambat tapi pasti.
Berderet mundur dengan suara yang bergesek dengan bangkai hati yang mulai membusuk.
Langkah kaki kemudian tak pernah lagi bersua dengan bayang hitam yang dititahkan Tuhan sebagai anak kembar tak terpisah
Semua memilih menjadi hitam, gelap, tanpa mata.

Disini, bumi kembali hitam
Engkau dengan segala prasangka-prasangkamu, kemudian menjadi diam yang panjang. Kita seperti ikut dengan ephoria Malam yang terlahir sepi, gelap dan sunyi.
Beberapa ketakutan membuat kita begidik tak sempurna
Jalan-jalan kembali hitam
tak mencari ujung dan serta tumpuan pijakan yang pada akhirnya akan membuat kita sadar bahwa pijakan ini tak pernah kuat, pun untuk sekadar berteriak marah pada orang-orang yang menginjak kedua mata kita dalam waktu bersamaan.
Masjid di seberang jalan yang penuh dengan aroma obat kembali sepi.
Kita tak lagi saling menyapa.
Kini telah terlalu larut pun untuk sekadar menangis walau dengan keluh yang hanya sedikit.

Aku hanya ingin kamu tahu, di antara sisa malam yang larut hanya menyisakan aroma kayu tua yang hampir rubuh.
Kau terlalu cantik dengan rok panjang dan baju motif bunga, serta kerudung merah muda kesukaanmu, yang sesekali kau ganti dengan warna hijau yang lebih muda.
Sekali waktu, semua berpihak, dan mempertemukan kita di tempat yang sama namun dengan kekecewaan yang tak kau ingat sama sekali. (nd)

“Kita kadang tidak sadar, bahwa diamnya seseorang adalah marah. Sebab suara tawa menenggelamkan kita pada lupa dan empatik yang terkikis perlahan, Pasti.” 

Tidak semua melihat ini sebagai kebohongan

Aku ingin lebih banyak mencintai hari ini
dimulai dengan mencari
Mencarimu dari setiap sisi ruang kebohongan
sebab hari ini kebohongan adalah Cinta…

Sampai hari ini apa yang lebih kuat dari kebohongan dan Cinta?
Bahkan rindu pun mulai terkalahkan dari kekuatan yang diusungnya dari rasa dan hati.

Hati telah mati, dan kuucapkan turut berbelasungkawa
Rasa pun ikut menyusut hampir bersamaan dengan kematian hati, tak ada rasa tanpa hati sebagai penikmatnya.
Pun tak ada kau yang terlihat cantik tanpa aku sebagai pemujanya, maka biarkan kebohongan dan Cinta menjadi satu, dan semua menginginkannya.
Dari setiap tangisan, sampai suara rasa yang tak pernah mampu kita tebak, rasa apa yang hadir hari ini…

Aku ingin lebih banyak mencintai hari ini
Mencintai dengan laku yang membuatmu senang..
Selang beberapa sabda tak keluar dari mulutmu, dan ini tetap menjadi kebohongan.
Diam kemudian menjadi kebohongan yang panjang, kemudian menjelma menjadi cinta yang terlalu kuat.
Lantas membuat tersenyum bohong, berbagi cerita bohong, memuji dengan kebohongan, meramu kebohongan dengan manis, mengiyakan dan menidakkan kata dan laku dengan kebohongan, mecari peluang kehidupan dengan kebohongan, mesra tanpa suara, menari tanpa langkah, berlari tanpa kaki, menyusup tanpa nafas, bahkan pada akhirnya kembali lagi pada kebohongan, yaitu menerima semua ini dengan kebohongan.

Aku ingin lebih banyak mencintai hari ini.
Aku mencintaimu dengan segala kebohonganmu, dan mencintaimu dengan kebohongan.

Kita terperangkap oleh Televisi, ruang sempit yang dibatasi frame seseorang yang juga diciptakan dengan kebohongan.
Sekali waktu kita juga terperangkap oleh teks dan gambar yang ada pada suratkabar pagi yang tiap pagi kau baca dengan seduhan kopi pahit yang terlalu nikmat untuk sekadar menyadari bahwa ini pun adalah kebohongan.

Tidak terlalu jauh, kemudian kita tetap menyambut meriah kebohongan dengan berbagai wujud tanpa menawarkan resah pada hati sedikitpun, bahwa ini adalah drama kebohongan termanis di dunia, tergantung cara kita menikmatinya masing-masing.

Seperti aku, yang terlalu menikmati cinta dengan wujud kebohongannya…

Aku ingin lebih banyak mencintai hari ini.
Kita hari ini, bahkan terlalu lugu untuk sekadar mengenal cinta, apalagi mengetahui cinta tanpa kebohongan.
Sebab Cinta dan kebohongan adalah satu wujud
Selamat mencintai cinta dengan segala kebohongannya, pun saat ini aku tengah meramu kebohongan baru..yang sama.

Aku pernah mencintaimu (nd)

Bright Star, Kisah Cinta Sang Penyair

Written by  Yofie Setiawan

Bright Star merupakan puisi karya John Keats, seorang penyair yang justru kurang terkenal semasa hidupnya.

Film ini menceritakan bagaimana kisah cinta 3 tahun yang dijalani oleh Keats dengan Fanny Brawne. Film ini sungguh sangat penuh dengan drama, romantisme, dan emosional yang begitu kuat. Sangat mengena untuk tontonan seorang melankolis. Bright Star merupakan film yang diadaptasi dari kisah nyata, yang tentunya akan bisa memberikan kita banyak inspirasi baru setelah menyaksikan film ini. Saya sangat merekomendasikan film ini sebagai sebuah film drama yang romantis.

Sinopsis : Kisah nyata Fanny Brawne (Abbie Cornish), 23 tahun warga negara Inggris di tahun 1818 yang memiliki kecintaan pada busana. Tetangganya, seorang penyair muda berbakat, John Keats (Ben Whishaw), meremehkan kepandaian Fanny karena ia percaya bahwa Fanny tidak tertarik pada sastra. Namun, Fanny berusaha membantu keluarga Keats ketika saudara John sakit parah, dan sebagai tanda terima kasih, John bersedia mengajarkan puisi – membawa Fanny dan John saling jatuh cinta. Meskipun mereka ingin menikah, masalah finansial dan mitra John (Paul Schneider) – yakin bahwa Fanny tidak lebih dari gangguan yang tidak diinginkan – berusaha agar tidak pernah akan pernikahan diantara mereka.

Jenis Film : Drama
Produser : Jan Chapman, Caroline Hewitt
Produksi : Pathé Distribution
Homepage : http://www.brightstar-movie.com/
Rating LSF : Dewasa (adult)
Durasi : 119 menit
Pemain : Ben Whishaw, Abbie Cornish, Paul Schneider, Kerry Fox, Thomas Sangster
Sutradara : Jane Campion
Penulis : Jane Campion

sumber: www.moviewme.com/

Kalah

Aku teringat sebuah tulisan teman yang dia post melalui sebuah grup di salah satu jejaring sosial.

Tulisan itu berjudul, “Kita kalah, Teman…”

Ketika membaca tulisan tersebut, aku merasa sedang baik-baik saja dan tidak merasa dalam posisi kalah sama sekali…

Tapi kondisi siang ini membuatku mengingat tulisan wawan dengan jelas tentang kekalahan, namun sedikit dibedakan oleh frame yang kugunakan.

Seberapa besar kita memaknai kekalahan? Atau sedikit ikhlas dengan mengakui bahwa kita memang telah benar-benar kalah.

Adakah yang ingin melakukan pembelaan?

Wajah-wajah yang menunduk siang ini, seperti tidak berbekas satu jejak semangat satu pun. Semua hanya bisa mengatakan “Maaf”

Mungkin karena kita ikhwah, jadi begitu mudah untuk memaafkan satu sama lain, menilai semua kekeliruan dengan pemakluman tanpa batas, dan mengakhirinya dengan kata bijak “Mari kita semua mengambil pelajaran, tidak perlu ada yang disesali”

Reproduksi kata-kata ini sangat luar biasa, dan selalu ada. Maaf kawan, jika aku hanya melihatnya sebagai diksi penutup kekalahan yang indah, sebagai upaya pembenaran dan menghilangkan rasa bersalah pada kekalahan yang telah jelas-jelas kita buat.

Tenggorokan terlalu kering, terlalu sulit menelan, bahkan menelan liur yang tersisa pun sepertinya telah kering sedari awal. Menggerakkan mata pun terlalu sulit, menyebar pandangan, mencari kekuatan dari mata teman seperjuanga. Tapi sepertinya semua sedang membenahi kekuatan masing-masing dengan menunduk, terpejam, dan diam.

Ini adalah kondisi kekalahan yang sebenar-benarnya.

Seberapa besar kita telah berusaha memenuhi hak orang lain? Atau bahkan sekadar menghadirkan kesadaran bahwa hak orang lain ada pada diri kita masing-masing, ketika kita mengaku siap untuk menjadi pengurus, dan mengemban amanah ini dengan senyum dan sedikit berani untuk berkata “aku sanggup”.

Atau sedikit bertanya, seberapa besar kita berusaha untuk memenuhi hak orang lain?

Kita tidak boleh hanya mengakhirinya dengan kata maaf…

Esensi maaf terlalu sempurna untuk kita gunakan untuk perkara-perkara kita ini.

Aku benar-benar kalah. Hanya bisa menunduk. Sesekali ada yang memberikan senyum, sebagai sumber penguatan, bahwa hari ini masih baik-baik saja…

Kita dalam sebuah bingkai “Tanpa kaca-kata”

“Untuk sebuah Rumah dengan kaca dan jendela yang kita fungsikan sama sebagai pintu”

Kita dalam sebuah bingkai yang tidak terlalu jauh dari cangkir kosong beraroma kopi di meja pagi ini.

Tidak saling menyapa, hanya menawarkan senyum tapi tidak untuk dipertukarkan.
10 dengan jumlah yang lebih baik dari angka 2
Beberapa telah menjadi angka yang berbeda 6, 3, 2, 5, tetap 1, 4, 2, 4 yang jauh…, kemudian 1 dan aku sendiri. Hampir satu tahun angka 30 ayah dan ibu telah berkurang 1, dan di tempat yang terlalu jauh dijangkau mata dan kepekaan telinga dan rasa dari kulit.

Tak berapa lama, kemudian bertambah lagi menjadi satu. Kali ini dengan ukuran yang sangat kecil namun hadir dengan jenis dan nama yang hampir sama.
Nama yang hampir sama kemudian disusun satu persatu dari huruf-huruf kehidupan. Pas, hanya dengan jumlah dan dialek yang ‘sedikit’ berbeda.

Seharusnya, ada yang sadar dari awal, bahwa senyum itu bukan penawar gundah setelahnya, tapi awal dari gundah Ibu.

Kopi ibu semakin pahit, beberapa hari ini bahkan ia memesan dua cangkir kopi padaku tanpa gula sebagai pemanis seperti biasanya.
Kita dalam sebuah bingkai yang tidak terlalu jauh dari tepian dinding ruang keluarga.
Tapi ini tetap terlalu bingung untuk saling menyapa.

Sesekali terlalu sibuk menghitung jumlah kertas yang semakin menumpuk dengan catatan-catatan utang yang entah terus bertambah.

Sekali waktu terlalu sibuk menggali lubang yang tak pernah menemui pangkal kepuasan bahwa ini telah terlalu dalam, pun untuk sekadar berkata “Aamien” dari setiap penutup doa kita pada Tuan pemilik semesta.
Sekali waktu di tempat yang pun tidak terlalu jauh dari tempat kita memagut doa, matahari terlalu silau, senyum-senyum yang kita susun dari puzzle-puzzle rapuh persaudaraan, pernah menjadi pelukan yang begitu erat ketika angka 30 menjadi 29. Pernah menjadi teriak kekesalan ketika pandangan kita terbagi, tidak pada satu titik. Dan, Pernah menjadi diam yang terlalu panjang, tidak terlalu panjang, kemudian menjadi sangat panjang, senyap…

Kita memiliki sepasang mata untuk melihat, tapi juga memeliki hak penuh untuk tidak mempertemukannya dalam sebuh titik yang tidak terlalu jauh dari cangkir kopi ibu dengan hitam pekat yang tersisa.

Ramadhan tidak terlalu jauh di depan mata.
Idul fitri pun tidak terlalu jauh, seperti rentan waktu yang terlalu dekat dari adzan Maghrib ke Adzan isya.
Tapi, tak ada yang bisa menyangkal Ramadhan tahun kemarin, membuat ini semua semakin jauh. Pun untuk sebuah senyum yang belum sempat kita pertukarkan pagi ini.
Kita dalam sebuah bingkai yang tidak terlalu jauh dari daun pintu besi rumah, kini merah dengan peluh debu yang terlalu tebal, bahkan asik bercengkrama mesra dengan jaring laba-laba dengan warna yang hampir sama. 30-29-30- bahkan kini 30 lebih setengah, Hidup adalah sebuah permainan yang tak pernah usai dengan angka-angka, dan akan usai tika berhasil menutupnya dengan dua kalimat saja (sekali lagi tentang angka).

Aku suka menikmati secangkir kopi dengan perut kosong, kemudian menambah volumenya dengan beberapa cangkir setelahnya. Suara-suara kemudian terdengar tanpa tuan, menyelaraskan semua pijakan kaki di sebuah tempat yang tidak terlalu jauh dari sebuah masjid dan menara yang tinggi dan Merdeka.

Kita dalam sebuah bingkai yang tidak terlalu jauh dari bekas cangkir kopi ayah. Semua akan keluar dari bingkai, dan saling menyapa, senyum, dan berbagi lahap makanan khas berbuka puasa. Kita memang tidak terlalu jauh dari frame “12/10/6/3/12+1/5/12-10/4/2/4/1/1″  di rumah kita masing-masing.

Ini bukan puzle kemunafikan, atau ketakutan- Tapi lebih pada keinginan pijakan kaki bertemu dalam satu hamparan yang sempit. Kapan waktu sedikit memihak untuk sebuah pesan pendek yang kita ketik masing-masing, dengan niat sederhana “saling menyapa”?

TaufiQ Ismail: “Kita adalah Pemilik sah Republik ini”

Pertemuan yang tidak disangka-sangka, tapi dari beberapa jatuhan takdir yang tak pernah disangka-sangka pun tak pernah terjadi sampai hari ini. Perlahan berubah menjadi khayalan, jauh dari harapan sebelumnya, aku benar-benar dalam khayalan yang terlalu panjang.

Kita tidak sekedar ada untuk Indonesia, tapi sampai di titik mana pandangan ini bertahan melihat parodi busuk para pelaku ulung dengan bahak yang sangat dipaksa sampai hari ini, bahkan sampai malam ini? (nd)


Tidak ada lagi pilihan lain
Kita harus
Berjalan terus. (Taufiq Ismail)

KITA ADALAH PEMILIK SAH REPUBLIK INI

Karya : Taufiq Ismail

Tidak ada pilihan lain
Kita harus
Berjalan terus
Karena berhenti atau mundur
Berarti hancur
Apakah akan kita jual keyakinan kita
Dalam pengabdian tanpa harga
Akan maukah kita duduk satu meja
Dengan para pembunuh tahun yang lalu
Dalam setiap kalimat yang berakhiran
“Duli Tuanku ?”

Tidak ada lagi pilihan lain
Kita harus
Berjalan terus
Kita adalah manusia bermata sayu, yang di tepi jalan
Mengacungkan tangan untuk oplet dan bus yang penuh
Kita adalah berpuluh juta yang bertahun hidup sengsara
Dipukul banjir, gunung api, kutuk dan hama
Dan bertanya-tanya inikah yang namanya merdeka
Kita yang tidak punya kepentingan dengan seribu slogan
Dan seribu pengeras suara yang hampa suara
Tidak ada lagi pilihan lain
Kita harus
Berjalan terus.

1966

diambil dari buku Tirani dan Benteng
(Yayasan Ananda, Jakarta, 1993, halaman 113)

Pewaris Karangan (ini tidak terlalu panjang)

Sebuah karangan baru saja jadi. Beberapa paragraf. Menciptakan senyum jika dibaca, membawa kebahagiaan pada beberapa orang yang disanjung dengan sangat sempurna, membuat senang untuk orang-orang yang bermata sipit.
Aku hampir menangis, Adakah yang tahu bahwa ini hanyalah sekadar karangan? Aku merasa, baru saja aku berbohong, tidak terlalu banyak, tapi tetaplah sebuah kebohongan. Karena hampir semua tidak tahu bahkan tidak ingin peduli apakah ini adalah karangan atau konstruksi realitas yang dibangun oleh diriku?
Di sini gelap sekali, terlalu gelap, bahkan untuk bisa membedakan bau buku diktat kuliah dengan bau dari beberapa lembar uang, pun tidak bisa. Pundakku tak kalah lelah, mencoba mencari sandaran yang tidak berduri, andainya pun kedua kaki saat ini tidak beralaskan kaki, maka duri ini akan melumpuhkan jari satu persatu.
Dunia tidak sebaik ini. Bumi selalu tunduk kala kita berjalan, namun sesekali ia menatap angkuh pada pemujanya. Tidak berlebihan, karena sekali lagi ini hanyalah beberapa potong cerita dari dongeng panjang yang entah kapan bertemu pada kata “dan bahagia untuk selama-lamanya.”
Sesekali aku menunda ini, hanya untuk mencari sanjungan. Aku terlalu sering menunggu sanjungan, bahkan hanya untuk rasa manis dari minuman hangat yang selalu kutawarkan tiap pagi pada orang-orang di luar diriku.
Tidak lebih. Bahkan cerita-cerita ini hampir mirip dongeng, tanpa kata “Pada zaman dahulu kala…”
Aku kembali mengarang, sepertinya beberapa karangan yang akan lahir kemudian mengajarkanku menjadi pembohong yang ulung.
Aku tidak berniat menjadi pembohong kawan! Cuman, beberapa alasan membuat perutku mual dan menagih janji dari setiap pandangan mata pada etalase-etalase berkaca bening.
Belakangan, ini menjadi cerita yang terlalu membosankan. Sebab tidak ada yang pernah bersedia menjadi pendengar yang baik. Hanya mendengar, dan berharap ini akan segera usai, sekalipun minuman belum kita seruput dengan sempurna.
Aku pernah berharap, kita akan bertemu dari beberapa jatuhan takdir yang tak pernah kita sangka-sangka. Tapi terlambat, aku telah membangun sangkaan-sangkaan itu dari awal, mengawali Tuhan untuk menentukan titah hari, yang setan pun tak tahu akan ada. Hanya dari pikiran. Tapi tetap, ini adalah sangkaan.

Tidak terlalu jauh, aku berharap kita akan bertemu dari karangan-karangan bualanku yang terlalu sempurna untuk dianggap sebagai omongkosong dari setiap pembacanya. Salah satu dari pembacanya adalah kamu. “Semoga yang kau dapat bukan tulisan ketika aku sedang membual, tapi ketika ia memang lahir dari sebuah persembahan kejujuran”
Kopi tetap nikmat, walau terlalu pahit tanpa gula. Pertemuan ini telah menjadi harap, dan telah menjadi persangkaan, tidak kembali pada konteks “yang tidak disangka-sangka”
Kembali pada bualanku. Ingin menangis sejadi-jadinya, kenapa aku ada untuk membual? Bukankah bangku-bangku sekolah, gendongan ibu, serta beberapa gertakan ayah mengajarkan tentang kejujuran?
Jujur hanyalah membuatmu lapar kawan!
Setengah dari langkahku membuatku sadar, semua harus dilihat sempurna. Kutemukan sepasang mata sipit dengan kulit seputih salju, disusul oleh sepasang mata sipit yang lain. Di tempat pijakan yang tidak terlalu jauh, kutemukan beberapa pasang mata sipit dengan perut yang terlalu membusung ke depan, ternyata semua harus menengadahkan tangan dan sesekali berlutut meminta suapan rezki pada tamu negara. Apa jadinya negara ini, bukankah kita adalah Pribumi. Pemilik sah negeri ini.

Aku pernah berdecak kagum pada salah satunya, tapi itu karena dia terlalu bangga dengan merah putih di tiang seberang sekolah.
Tamparan ini terlalu keras, tak ada ruang yang terlalu luas untuk merebahkan badan, bahkan untuk bersandar sekalipun. Mata terlalu tajam dalam memandang, suara berubah menjadi lengkingan yang tak mengenal hormat pada pewaris sah bumi pertiwi, tapi pada akhirnya hanya perut yang akan bersuara lapar, dan hanya kaki yang akan lelah berjalan.

Bumi pertiwi menawarkan peluh, dan ruangan sejuk hanya ada pada pewaris tanpa hati.
Pijakan bumi ini terlalu keras, dan kaki terlalu lemah untuk sekedar berdiri lama.

Ah, aku adalah mahasiswa. Beberapa bangku kuliah dalam kelas mengajarkanku teori-teori kehidupan yang meninabobokan akal sehat, bersamaan dengan itu menumbuhkan jiwa pragmatis dari akar yang paling dalam.
Di luar ruangan kuliah, penuh asap rokok, debu jalanan, kertas-kertas perlawanan pada sistem, diskusi, kajian, bacaan-bacaan kanan-kiri-tengah, bahkan jika ada bacaan bawah dan atas pun harus dibaca.

Tidak bermaksud mencari belas kasihan
Kita adalah pemilik sah negeri ini, yang rela menjahit bendera negara walau benang sudah hampir putus, dan kain merah dan putih tidak sama panjang, dan hanya saling mencukupi.

Apakah kita terlalu memuliakan tamu?
Atau dalam posisi yang paling buruk, dibodohi oleh tamu?
Nasionalisme hari ini, hanya menjadi dongeng indah di sebuah buku-buku sejarah yang juga sebuah karangan.
Adakah yang tahu, dalam beberapa bab buku sejarah lebih banyak bernilai sebuah karangan, dari pada konstruksi yang sebenarnya.
Ini perkara yang cukup sederhana, kita kurang cerdas, dan banyak yang tidak lagi memikirkan untuk cerdas, karena perut lebih awal meminta untuk dipikirkan.
“Kita adalah pewaris sah negeri ini”
“Kita adalah pemilik sah negeri ini”

Aku baru ingat ada sajak panjang yang pernah kudengar ketika bangku usang masih menjadi bangku utama selama enam tahun… “Kita adalah pemilik sah Republik ini” karya Taufik Ismail.

nd, ini tidak terlalu panjang, tapi akan lama…
Bumi memang terlalu keras untuk menjadi pijakan kaki tanpa kekuatan.
(Refleksi beberapa hari ini, yang terlalu menyesakkan)

Berbagi pahitnya Kopi

Sekali waktu aku ingin kita merasakan enaknya pahit kopi bersama-sama. Merasakan aromanya dengan cara yang sangat pelan, menelan sabda-sabda alam, bumi, dan diktat-diktat bersama setengah aroma kayunya dengan logika yang paling sadar.
Tanganmu masih terlalu kotor, sisa hitam oli berpadu padan dengan sisa tanah yang melekat dari bumi untuk setiap perjalananku tanpamu. Kau tetap terlalu baik.
Aku ingin berbagi rasa kopi bersamamu. Bercerita tentang kekagumanku pada pahit dan hitamnya, Sederhana saja, karena kau sangat baik padaku. Entah kemudian, apakah ada keinginanmu untuk mengganti rasa dari minuman yang kusajikan. Setidaknya aku telah berbagi minuman yang kuanggap paling sempurna.
kita memiliki sepasang mata masing-masing, dan memiliki hak penuh untuk tidak saling mempertemukannya dalam satu titik. Peluh tersirat satu per satu, tapi kau tetap tersenyum. Aku tahu, kau adalah orang baik.
Pernahkah kau mendengar nama Ridwan? Itu adalah nama malaikat penjaga pintu Surga. Jika diberi kesempatan memberi nama pada seseorang yang baik sepertimu, maka namamu adalah Ridwan.
“Ridwan, seseorang bernama Zakiyah ingin berbagi kopi denganmu”
Lagi-lagi kau hanya tersenyum, menjawab tawaranku.
Sekali waktu, sesaat setelah adzan Ashar baru saja terlewat di telinga para pemuja pemijak bumi, aku ingin menawarkan buku bacaan padamu. Mungkin kau suka membaca.
Tapi, tidak jadi… Aku tidak tahu kau suka membaca buku apa?
Tidakkah kau ingin bertanya apa isi ransel hitamku, tiap kali kita bertemu, aku membawa beberapa buku, di atas persangkaan bahwa kau akan memilih salah satu dari yang kubawa, yang mungkin akan menemani insomnia panjangmu.
Aku tidak menawarkan buku untuk kau baca selagi waktumu luang, karena aku tahu kau tidak punya waktu luang.
Sekali waktu, aku juga ingin berbagi migran denganmu, hm, yang satu ini karena kita bercerita tentang negeri yang mulai usang oleh cerita parodi di media massa yang membuat para khalayak menahan nafas.
Selanjutnya kita akan berbagi tempat duduk, berbagi pengalaman, dan berbagi cerita.
Sekali waktu, pada akhirnya aku ingin menangis karena kau menolak semua tawaranku.
Sesaat setelah langkahku hampir usai, kau akhirnya bicara. “Aku ingin berbagi meja denganmu, menikmati minuman kita masing-masing, karena aku tidak suka kopi.”
Tawaku pecah, pada akhirnya aku juga tahu, kau tidak suka asap rokok. Kau memang terlalu baik, setengah batang rokokku hampir habis, menyisakan abu yang hampir sewarna dengan uban ayah.