Sebuah karangan baru saja jadi. Beberapa paragraf. Menciptakan senyum jika dibaca, membawa kebahagiaan pada beberapa orang yang disanjung dengan sangat sempurna, membuat senang untuk orang-orang yang bermata sipit.
Aku hampir menangis, Adakah yang tahu bahwa ini hanyalah sekadar karangan? Aku merasa, baru saja aku berbohong, tidak terlalu banyak, tapi tetaplah sebuah kebohongan. Karena hampir semua tidak tahu bahkan tidak ingin peduli apakah ini adalah karangan atau konstruksi realitas yang dibangun oleh diriku?
Di sini gelap sekali, terlalu gelap, bahkan untuk bisa membedakan bau buku diktat kuliah dengan bau dari beberapa lembar uang, pun tidak bisa. Pundakku tak kalah lelah, mencoba mencari sandaran yang tidak berduri, andainya pun kedua kaki saat ini tidak beralaskan kaki, maka duri ini akan melumpuhkan jari satu persatu.
Dunia tidak sebaik ini. Bumi selalu tunduk kala kita berjalan, namun sesekali ia menatap angkuh pada pemujanya. Tidak berlebihan, karena sekali lagi ini hanyalah beberapa potong cerita dari dongeng panjang yang entah kapan bertemu pada kata “dan bahagia untuk selama-lamanya.”
Sesekali aku menunda ini, hanya untuk mencari sanjungan. Aku terlalu sering menunggu sanjungan, bahkan hanya untuk rasa manis dari minuman hangat yang selalu kutawarkan tiap pagi pada orang-orang di luar diriku.
Tidak lebih. Bahkan cerita-cerita ini hampir mirip dongeng, tanpa kata “Pada zaman dahulu kala…”
Aku kembali mengarang, sepertinya beberapa karangan yang akan lahir kemudian mengajarkanku menjadi pembohong yang ulung.
Aku tidak berniat menjadi pembohong kawan! Cuman, beberapa alasan membuat perutku mual dan menagih janji dari setiap pandangan mata pada etalase-etalase berkaca bening.
Belakangan, ini menjadi cerita yang terlalu membosankan. Sebab tidak ada yang pernah bersedia menjadi pendengar yang baik. Hanya mendengar, dan berharap ini akan segera usai, sekalipun minuman belum kita seruput dengan sempurna.
Aku pernah berharap, kita akan bertemu dari beberapa jatuhan takdir yang tak pernah kita sangka-sangka. Tapi terlambat, aku telah membangun sangkaan-sangkaan itu dari awal, mengawali Tuhan untuk menentukan titah hari, yang setan pun tak tahu akan ada. Hanya dari pikiran. Tapi tetap, ini adalah sangkaan.
Tidak terlalu jauh, aku berharap kita akan bertemu dari karangan-karangan bualanku yang terlalu sempurna untuk dianggap sebagai omongkosong dari setiap pembacanya. Salah satu dari pembacanya adalah kamu. “Semoga yang kau dapat bukan tulisan ketika aku sedang membual, tapi ketika ia memang lahir dari sebuah persembahan kejujuran”
Kopi tetap nikmat, walau terlalu pahit tanpa gula. Pertemuan ini telah menjadi harap, dan telah menjadi persangkaan, tidak kembali pada konteks “yang tidak disangka-sangka”
Kembali pada bualanku. Ingin menangis sejadi-jadinya, kenapa aku ada untuk membual? Bukankah bangku-bangku sekolah, gendongan ibu, serta beberapa gertakan ayah mengajarkan tentang kejujuran?
Jujur hanyalah membuatmu lapar kawan!
Setengah dari langkahku membuatku sadar, semua harus dilihat sempurna. Kutemukan sepasang mata sipit dengan kulit seputih salju, disusul oleh sepasang mata sipit yang lain. Di tempat pijakan yang tidak terlalu jauh, kutemukan beberapa pasang mata sipit dengan perut yang terlalu membusung ke depan, ternyata semua harus menengadahkan tangan dan sesekali berlutut meminta suapan rezki pada tamu negara. Apa jadinya negara ini, bukankah kita adalah Pribumi. Pemilik sah negeri ini.
Aku pernah berdecak kagum pada salah satunya, tapi itu karena dia terlalu bangga dengan merah putih di tiang seberang sekolah.
Tamparan ini terlalu keras, tak ada ruang yang terlalu luas untuk merebahkan badan, bahkan untuk bersandar sekalipun. Mata terlalu tajam dalam memandang, suara berubah menjadi lengkingan yang tak mengenal hormat pada pewaris sah bumi pertiwi, tapi pada akhirnya hanya perut yang akan bersuara lapar, dan hanya kaki yang akan lelah berjalan.
Bumi pertiwi menawarkan peluh, dan ruangan sejuk hanya ada pada pewaris tanpa hati.
Pijakan bumi ini terlalu keras, dan kaki terlalu lemah untuk sekedar berdiri lama.
Ah, aku adalah mahasiswa. Beberapa bangku kuliah dalam kelas mengajarkanku teori-teori kehidupan yang meninabobokan akal sehat, bersamaan dengan itu menumbuhkan jiwa pragmatis dari akar yang paling dalam.
Di luar ruangan kuliah, penuh asap rokok, debu jalanan, kertas-kertas perlawanan pada sistem, diskusi, kajian, bacaan-bacaan kanan-kiri-tengah, bahkan jika ada bacaan bawah dan atas pun harus dibaca.
Tidak bermaksud mencari belas kasihan
Kita adalah pemilik sah negeri ini, yang rela menjahit bendera negara walau benang sudah hampir putus, dan kain merah dan putih tidak sama panjang, dan hanya saling mencukupi.
Apakah kita terlalu memuliakan tamu?
Atau dalam posisi yang paling buruk, dibodohi oleh tamu?
Nasionalisme hari ini, hanya menjadi dongeng indah di sebuah buku-buku sejarah yang juga sebuah karangan.
Adakah yang tahu, dalam beberapa bab buku sejarah lebih banyak bernilai sebuah karangan, dari pada konstruksi yang sebenarnya.
Ini perkara yang cukup sederhana, kita kurang cerdas, dan banyak yang tidak lagi memikirkan untuk cerdas, karena perut lebih awal meminta untuk dipikirkan.
“Kita adalah pewaris sah negeri ini”
“Kita adalah pemilik sah negeri ini”
Aku baru ingat ada sajak panjang yang pernah kudengar ketika bangku usang masih menjadi bangku utama selama enam tahun… “Kita adalah pemilik sah Republik ini” karya Taufik Ismail.
nd, ini tidak terlalu panjang, tapi akan lama…
Bumi memang terlalu keras untuk menjadi pijakan kaki tanpa kekuatan.
(Refleksi beberapa hari ini, yang terlalu menyesakkan)